Ilustrasi. | AI
Oleh: M Yazid*
ADA satu fenomena menarik yang mungkin jarang dibicarakan secara terbuka di tongkrongan para guru. Namun, ia kerap ada dalam pembahasan bisik-bisik empat mata. Nyata.
Diam-diam tapi mau. Ada banyak oknum guru yang ambisius menjadi kepala sekolah (Kepsek). Bahkan dewasa ini ambisi ini tak hanya melanda kalangan guru ASN senior, namun juga rekan-rekan PPPK baru.
Rasa haus akan pengakuan, gengsi sosial, hingga keinginan untuk memegang kendali setelah sekian lama berada di posisi bawah sering kali menjadi bahan bakar utama ambisi ini.
Menjadi Kepsek dipandang sebagai piala pembuktian diri, sebuah panggung untuk disegani dan diperhitungkan.
βββ
Namun, sebelum melangkah terlalu jauh dan terbuai oleh bayangan manis sebuah jabatan, berpikirlah dua kali.
Bagi siapapun teman-teman yang berambisi menjadi Kepsek, coba pertimbangkan beberapa hal berikut:
1οΈβ£ Tanggung jawab vs tunjangan
Banyak yang hanya membayangkan enaknya saja: duduk di ruangan pimpinan, memimpin rapat, memberi instruksi, memerintah sana-sini.
Padahal, begitu SK ditandatangani, beban berat langsung menumpuk di pundak.
Salah satu monster terbesar Kepsek tentu saja adalah pengelolaan Dana BOS.
Saat menjadi Kepsek, Anda akan rangkap peran menjadi pengelola keuangan negara.
Setiap rupiah yang keluar menuntut pertanggungjawaban hukum yang sangat ketat. Salah langkah atau lalai administrasi sedikit saja, urusannya bukan lagi teguran atasan, melainkan pemeriksaan aparat penegak hukum.
Sementara tunjangan jabatan yang diterima tidak pernah sepadan dengan semua resiko itu.
2οΈβ£ Alunan ombak lingkungan birokrasi
Dunia seorang Kepsek tidak pernah steril dari dinamika panggung birokrasi.
Sebagai Kepsek, Anda harus cerdas dan “berpandai-pandai” menavigasi diri di antara kepentingan dinas, komite, tokoh masyarakat, hingga intimidasi oknum-oknum tertentu.
Menjadi Kepsek menuntut kecakapan diplomasi tingkat tinggi, sebuah keahlian yang tidak pernah diajarkan saat Anda menjadi guru kelas. Sebab birokrasi selalu identik dengan dunia percaturan politik.
3οΈβ£ Tidak bisa memilih enaknya saja
Banyak calon Kepsek membayangkan skenario ideal saja.
Misalnya, memimpin sekolah favorit di pusat kota, dengan staf dan guru yang kompeten dan nurut, siswa-siswa pintar berprestasi, serta wali murid berkecukupan yang selalu siap mendukung fasilitas sekolah.
Lupakan mimpi indah itu.
Sebagai Kepsek, Anda masih prajurit yang siap diterjunkan di mana saja. Tidak bisa memilih sekolah tempat tugas. Jadi selalu ada kemungkinannya Anda justru dilempar ke sekolah terpelosok. Dan angan-angan Anda tadi lenyap di awan.
Bagaimana kalau bertugas di sekolah dengan akses jalan rusak, bangunan lapuk, dan Dana BOS minim karena jumlah siswa yang sedikit. Guru-guru senior yang resisten terhadap perubahan, atau staf dan guru dengan semangat kerja seadanya. Wali murid yang acuh tak acuh terhadap pendidikan anak, serta masyarakat sekitar yang kurang suportif.
Di titik inilah ambisi haus kuasa akan runtuh seketika, berganti menjadi keputusasaan jika Anda tidak memiliki mental kepemimpinan yang berakar pada pengabdian murni.
4οΈβ£ Kematangan dan kedewasaan
Selain beban manajerial, seorang Kepsek adalah benteng utama dalam penyelesaian konflik yang membutuhkan level kebijaksanaan dan kecerdasan emosional tinggi.
Ketika terjadi gesekan, baik perselisihan internal antarguru, hingga perselisihan memanas antara guru dengan wali murid atau masyarakat sekitar, Kepsek-lah yang wajib turun tangan sebagai penengah.
Di titik ini, jabatan dan rasa ingin disegani tadi, sama sekali tidak berguna jika tidak diimbangi dengan kepala dingin dan taktik komunikasi yang matang.
Salah mengambil keputusan atau terlalu emosional merespons keadaan justru akan menyiram bensin ke dalam api. masalah sepele bisa menjadi ruwet, viral di media sosial, atau bahkan berlanjut ke ranah hukum.
βββ
Menjadi kepala sekolah bukanlah soal agar dipandang, disegani, atau memegang tongkat kekuasaan. Jangan hanya itu yang dibayangkan.
Kepemimpinan adalah tentang pelayanan, ketahanan mental, dan keberanian menanggung risiko.
Jika dorongan Anda menjadi Kepsek hanya sekadar ingin menutupi krisis percaya diri masa lalu, pembuktian status sosial, ingin terlihat keren, atau tergiur oleh wibawa semata, urungkan niat Anda sekarang juga!
Sebab ketika badai masalah sekolah datang, kilau jabatan itu akan lenyap seketika, menyisakan beban berat yang harus Anda tanggung sendiri.
Jangan mengejar panggung jika belum siap menanggung. (*)
*Pemilik Percetakan Promedia Tanggamus
