Oleh: Abid Bisara
Ada satu masa dalam hidup yang tak pernah benar-benar pergi, meski waktu terus berlari. Ia tersimpan rapi di sudut memori, sesekali muncul dalam senyum yang tiba-tiba, dalam rindu yang tak bernama. Itulah masa kecil sebuah negeri dongeng yang pernah kita tinggali, sebelum kita dewasa dan lupa jalan pulang.
Dulu, pagi bukanlah tentang alarm yang memekik telinga atau kopi yang buru-buru ditenggak. Pagi adalah ketika sinar matahari pertama menyelinap di sela tirai jendela, membangunkan kita dengan lembut. Udara masih segar, embun masih setia di ujung dedaunan, dan ayam jantan berkokok seperti penyiar radio yang tak pernah minta bayaran.
Kita bangun dengan mata yang masih setengah melek, tapi semangat yang sudah penuh. Sarapan seadanya nasi goreng sisa semalam atau roti selai stroberi yang dioles tebal-tebal, lalu bergegas ke luar rumah. Karena di luar sana, petualangan sudah menanti.
Masa kecil identik dengan sahabat yang jumlahnya tak terhitung. Bukan sahabat di media sosial, tapi sahabat sungguhan yang rumahnya bisa kita masuki kapan saja tanpa perlu janji. Yang pintu dapurnya selalu terbuka untuk kita, yang ibunya akan menyuguhkan minuman meski kita tak minta.
Bersama mereka, kita menjelajah setiap sudut kampung. Sungai kecil dengan air sejernih kaca menjadi lautan yang kita arungi dengan ban bekas. Sawah hijau membentang menjadi medan perang dalam perang-perangan yang tak pernah benar-benar perang. Pohon mangga di ujung gang menjadi istana, tempat kita memanjat setinggi mimpi.
Tak ada gadget yang mengalihkan. Tak ada notifikasi yang memutus tawa. Yang ada hanyalah suara riuh kami sendiri, teriakan “gaboleh main jauh-jauh!” dari ibu, dan janji untuk pulang sebelum magrib yang hampir selalu terlambat.
Masa kecil adalah masa ketika permainan bukan sekadar hiburan, tapi juga guru kehidupan yang tak pernah menggurui. Dari petak umpet, kita belajar bahwa kadang kita harus bersembunyi untuk menemukan diri sendiri. Dari lompat tali, kita belajar ritme dan ketepatan waktu. Dari kelereng, kita belajar strategi dan ketelitian. Dari congklak, kita belajar berhitung tanpa sadar bahwa kita sedang belajar.
Dan dari semua permainan itu, kita belajar satu hal paling berharga: kejujuran. Karena siapa yang curang akan segera dikucilkan. Siapa yang tak sportif akan kehilangan teman. Di masa kecil, keadilan ditegakkan bukan oleh hukum tertulis, tapi oleh konsensus sederhana: “Kalo gak fair, gak usah main!”
Sore hari di masa kecil adalah durasi terpanjang dalam sejarah waktu. Dari pukul tiga hingga azan magrib berkumandang, rasanya seperti satu era. Kami bisa berganti permainan berkali-kali, berlarian hingga napas terengah, tertawa hingga perut sakit.
Menjelang senja, langit berubah warna. Jingga kemerahan membentang di ufuk barat, seolah Tuhan sedang melukis perpisahan untuk hari itu. Burung-burung mulai pulang ke sarang, dan suara azan magrib mulai terdengar dari masjid kampung.
Itulah saat terindah sekaligus terberat. Terindah karena senja, terberat karena harus pulang. Tapi di balik kewajiban pulang, selalu ada hidangan malam yang menanti di meja makan, dan pelukan ibu yang hangat sebelum tidur.
Malam di masa kecil tak pernah sunyi seperti sekarang. Kadang kami masih bermain kejar-kejaran di bawah lampu jalan yang remang-remang. Kadang kami duduk di teras rumah, mendengarkan cerita hantu dari kakak tetangga yang membuat kami sulit tidur. Kadang kami hanya berbaring di tikar pandan, memandangi langit malam penuh bintang, sambil bertanya-tanya: sebesar apa alam semesta ini?
Di dalam rumah, televisi hitam-putih menjadi pusat perhatian. Siaran masih terbatas, tapi tak ada yang mengeluh. Karena kebersamaan lebih penting dari tayangan. Kadang listrik padam, dan kami justru senang lilin dinyalakan, bayangan-bayangan terbentuk di dinding, dan cerita-cerita baru lahir dari gelap.
Kini, ketika dewasa telah merangsek dengan segala urusannya, masa kecil itu hadir seperti mimpi indah yang kadang kita rindukan. Kita rindu bagaimana dulu satu permen bisa dibagi berempat. Bagaimana dulu menangis boleh keras-keras karena akan segera ada yang memeluk. Bagaimana dulu luka bisa sembuh hanya dengan diobati ibu.
Kita rindu pada masa ketika masalah terbesar adalah PR matematika yang susah, atau ketika teman tak mengajak main. Ketika semuanya tampak sederhana dan dunia terasa baik-baik saja.
Masa kecil memang tak akan kembali. Tapi ia tak pernah benar-benar pergi. Ia hadir dalam tawa anak-anak kita yang berlarian di halaman. Ia hadir dalam aroma masakan ibu yang masih sama sejak dulu. Ia hadir dalam lagu-lagu yang dulu sering kita nyanyikan, dalam bau hujan pertama yang membasahi tanah kering.
Masa kecil adalah rumah pertama kita. Tempat kita belajar tentang cinta tanpa syarat, tentang persahabatan tanpa pamrih, tentang kebahagiaan tanpa syarat. Dan meski kita sudah lama pindah dari rumah itu, kita selalu bisa pulang setidaknya dalam ingatan. Maka, jika saat ini hidup terasa berat, coba ingat kembali masa kecilmu. Tarik napas, tutup mata, dan biarkan dirimu sejenak kembali ke sana. Rasakan lagi kebebasan itu, keceriaan itu, kepolosan itu.
Sebab di sanalah kita pernah menjadi versi paling bahagia dari diri kita sendiri. Sebelum dunia mengajari kita tentang ambisi, tentang persaingan, tentang kepahitan. Sebelum kita lupa bahwa hidup, pada dasarnya, adalah tentang menikmati setiap detiknya deperti dulu, ketika kita masih kecil, dan dunia selebar halaman rumah.
