Sigerpos.com, Metro – Mantan Wali Kota Metro, dr. Wahdi, tak hanya berpangku tangan menyaksikan bencana. Pada Jumat (12/12/2025), ia langsung memimpin keberangkatan tim relawan dan bantuan kemanusiaan menuju tiga wilayah terdampak banjir terparah di Sumatera, Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara.
Misi ini tidak hanya membawa bahan pangan dan obat-obatan, tetapi juga program khusus ‘trauma healing’ untuk menyembuhkan luka psikologis korban, terutama ibu dan anak. Berangkat dari Gedung A RSIA AMC Kota Metro, rombongan yang terdiri dari tenaga medis dan relawan ini, siap menempuh perjalanan darat yang berisiko karena jalur yang rusak diterjang banjir. Namun, tekad mereka sudah bulat.
“Kita tidak bisa membiarkan saudara-saudara kita menghadapi musibah sendirian. Ada ibu, ada anak, ada keluarga yang sedang berusaha bertahan. Itu yang membuat kami harus segera bergerak,” tegas Wahdi.
Keprihatinannya terhadap akses kesehatan dan pemulihan psikis yang belum optimal menjadi pendorong utama. Ia menilai bantuan tidak boleh berhenti pada kebutuhan fisik semata.
βFokus kami pada ibu dan anak. Mereka yang paling merasakan guncangan. Kami ingin hadir tidak hanya membawa obat, tetapi juga membawa keteduhan,β ujar Wahdi, menekankan pentingnya pendekatan holistik.
Sebelum berangkat, tim telah melakukan koordinasi intensif dengan jaringan relawan di daerah tujuan untuk memetakan kebutuhan dan jalur distribusi. βRelawan di lapangan sudah kami hubungi satu per satu. Kita bergerak bersama,β jelasnya.
Bantuan yang dibawa pun dirancang menyeluruh, meliputi Obat-obatan esensial dan tenaga medis. Bahan pangan pokok untuk kebutuhan darurat. Dana amanah dari para donatur. Program trauma healing untuk pemulihan mental.
Keberangkatan ini mendapat apresiasi luas. Lisma, salah satu keluarga relawan, berharap aksi ini membuka mata pihak berwenang. βJika pihak terkait punya sedikit kepedulian, kami yakin persoalan korban bencana dapat segera terselesaikan,β ujarnya.
Dengan mengendarai ambulans melalui rute yang belum pulih sepenuhnya, dr. Wahdi dan tim menyimpan tekad besar di balik risiko perjalanan. βYang harus dijaga bukan hanya kesehatan, tetapi juga ketulusan niat. Perjalanan ini jauh, tapi insya Allah bermanfaat bagi banyak orang,β tutupnya, mengawali langkah nyata solidaritas yang menembus batas geografis.(*)
