Sigerpos.com, Tulang Bawang β Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dirancang untuk meningkatkan gizi masyarakat justru meninggalkan cerita pahit di Kecamatan Menggala, Kabupaten Tulang Bawang. Puluhan warga, mulai dari anak-anak hingga lansia, diduga mengalami keracunan massal setelah menyantap menu kering MBG yang dibawa pulang dari sekolah, Selasa (24/2/2026).
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban mengalami gejala muntah-muntah hebat dan diare berkepanjangan usai mengonsumsi makanan yang terdiri dari roti, telur, dan buah. Ironisnya, tidak hanya siswa penerima manfaat yang menjadi korban, tetapi juga orang tua, guru, balita, bahkan kakek-nenek yang ikut menyantap menu tersebut di rumah.
Ketua Satuan Tugas (Satgas) MBG Provinsi Lampung, Saipul, membenarkan insiden nahas ini. Ia mengungkapkan bahwa laporan awal hanya menyebutkan delapan orang, namun jumlahnya terus bertambah sepanjang malam hingga pagi hari.
“Laporan awal tadi malam itu baru delapan orang. Ternyata setelah pagi hari, jumlahnya bertambah menjadi sekitar 30-an orang. Total sementara ada 33 korban. Tapi Alhamdulillah, semuanya sudah ditangani,” ujar Saipul saat dikonfirmasi, Rabu (25/2/2026).
Para korban berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari siswa SD-SMP, balita, orang dewasa, hingga lansia. Mereka mengalami gejala khas keracunan makanan, seperti mual, muntah, dan diare.
Penanganan Cepat, Kondisi Korban Membaik
Saipul memastikan bahwa seluruh korban telah mendapatkan penanganan medis. Sebagian dirawat di rumah sakit, sementara lainnya ditangani di balai pengobatan dan puskesmas setempat.
“Kondisi mereka sudah ditangani, ada yang dirawat di rumah sakit, ada juga yang ditangani di balai pengobatan dan puskesmas. Alhamdulillah kondisinya membaik, tidak ada yang sampai parah,” lanjutnya.
Hingga saat ini, penyebab pasti keracunan masih belum diketahui. Satgas MBG Provinsi Lampung masih menunggu laporan detail dari tim teknis di lapangan, termasuk jenis menu yang diduga menjadi biang keladi.
“Memang bagian dari menu yang dibagikan, tapi detailnya belum kami terima. Termasuk isu telur dari Lampung Timur, itu belum bisa kami pastikan,” kata Saipul.
Isu yang beredar menyebutkan bahwa telur dalam menu MBG tersebut didatangkan dari Lampung Timur, namun belum ada konfirmasi resmi mengenai kualitas dan keamanan pangan dari komoditas tersebut.
Insiden di Menggala ini menjadi tamparan keras bagi pelaksanaan program MBG yang selama ini digembar-gemborkan sebagai solusi stunting dan peningkatan gizi masyarakat. Alih-alih menyehatkan, program ini justru membawa petaka bagi puluhan warga.
Warga pun mulai mempertanyakan pengawasan dan kontrol kualitas makanan yang dibagikan. Jika di tingkat pelaksana saja sudah terjadi insiden keracunan massal, bagaimana dengan jaminan gizi yang dijanjikan?
Satgas MBG Provinsi Lampung berjanji akan melakukan investigasi menyeluruh dan memastikan kejadian serupa tidak terulang. Namun bagi para korban dan keluarganya, trauma dan kekecewaan telah meninggalkan luka yang tak mudah sembuh.
Publik menanti transparansi hasil investigasi dan sanksi tegas bagi pihak-pihak yang lalai, karena uang rakyat tidak seharusnya berakhir pada menu yang meracuni.(*)
