Metro β Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Metro ke-89 tahun 2026 berlangsung khidmat di Stadion Tejosari, Kecamatan Metro Timur, Selasa (9/6/2026). Ratusan peserta dari ASN, pelajar, tokoh masyarakat, hingga unsur Forkopimda turut hadir. Namun di balik upacara dan atribut kemeriahan, Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, memilih nada yang berbeda: jadikan hari jadi ini sebagai ruang refleksi, bukan sekadar seremonial.
“Hari Jadi Kota Metro bertujuan menggugah semangat persatuan, rasa memiliki, kecintaan, dan kebanggaan terhadap Kota Metro. Juga sebagai sarana introspeksi dan evaluasi atas apa yang telah, sedang, dan akan kita lakukan,” ujar Bambang dalam amanatnya.
Mengusung tema Harmoni Nyata, Cerdas Bahagia, Pemkot Metro ingin menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti pada angka, tetapi harus berdampak pada kualitas hidup warga. Bambang menjelaskan bahwa harmoni berarti menjaga persatuan di tengah keberagaman, kecerdasan diwujudkan melalui pendidikan dan tata kelola modern, serta kebahagiaan menjadi ukuran nyata keberhasilan.
Namun ia tak menampik bahwa di usia ke-89, Metro masih menyimpan sejumlah “pekerjaan rumah” yang menggunung. Infrastruktur yang belum merata, pengelolaan lingkungan yang masih keluh, serta pelayanan publik yang kerap menjadi sorotanβsemua harus dijawab dengan kerja nyata, bukan sekadar jargon.
Bambang mengingatkan bahwa pembangunan Metro tidak akan berhasil jika hanya dibebankan pada pundak pemerintah. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan organisasi kemasyarakatan untuk bergerak bersama, gotong royong, membangun kota menuju masyarakat yang bahagia.
“Keberhasilan pembangunan adalah hasil kerja bersama. Tema ini mengajak kita memperkuat kolaborasi, memperluas akses pendidikan dan teknologi, serta memastikan setiap kebijakan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup warga,” tegasnya.
Wali Kota juga mengajak warga mengingat perjalanan panjang Metro dari awal berdiri hingga menjadi pusat pendidikan dan jasa di Lampung. Baginya, sejarah bukan sekadar cerita, melainkan fondasi untuk merancang masa depan yang lebih baik. Di usia yang hampir satu abad ini, Metro dituntut tidak hanya berbenah, tetapi juga melahirkan komitmen baru untuk memperbaiki segala kekurangan.
Perayaan ulang tahun kota memang layak disyukuri. Namun Wali Kota Bambang memilih untuk tidak larut dalam euforia. Ia menekankan bahwa tanpa perbaikan konkret di lapangan, pesta dan baliho hanya akan menjadi pajangan. Maka, HUT ke-89 diharapkan menjadi titik balik: dari seremonial menjadi aksi, dari wacana menjadi harmoni nyata. (*)
