Sigerpos.com, Metro β Di tengah gegap gempita budaya modern, kesenian wayang sebagai warisan luhur yang telah diakui UNESCO justru terasa sunyi di Kota Metro. Para seniman dan dalang, termasuk generasi cilik, mengungkapkan kegelisahan atas minimnya perhatian dan dukungan nyata dari pemerintah daerah.
Ketua Persatuan Pendalang Indonesia (PEPADI) Kota Metro, Sukadi, dengan nada prihatin menyatakan bahwa wayang saat ini seperti hidup segan, mati tak mau. Padahal, wayang bukan sekadar pertunjukan boneka, melainkan gudang ilmu moral, sejarah, dan identitas bangsa.
“Wayang adalah warisan budaya asli Indonesia yang diakui dunia, tetapi kami bingung harus meminta bantuan ke mana. Untuk mengirim dalang cilik kami berlaga di kompetisi nasional di Jawa saja, kami terbentur biaya,” ujar Sukadi, Minggu (4/1/2026).
Ia menegaskan bahwa semangat melestarikan wayang tidak hanya kuat di Jawa, tetapi juga menggelora di hati seniman Lampung, khususnya Metro.
“Kami ingin wayang tetap hidup dan terjaga di sini, di Kota Metro. Perhatian pemerintah sangat kami harapkan, terutama untuk mendukung bakat-bakat muda, para dalang cilik kita,” tambahnya penuh harap.
Saat ini, sebagian besar kegiatan dan pengembangan kesenian wayang di Metro hanya mengandalkan swadaya komunitas dan semangat gotong royong para seniman. Minimnya anggaran dan program pemerintah menjadi tantangan terbesar untuk bertahan, apalagi berkembang.
Dukungan yang diharapkan bukan sekadar kata-kata, melainkan kebijakan konkret, alokasi anggaran khusus, penyediaan fasilitas latihan, pembinaan berjenjang untuk dalang muda, serta dukungan untuk mengikuti festival dan lomba di tingkat regional maupun nasional.
Jika tidak ada intervensi serius, kekhawatirannya besar wayang akan semakin tersingkir dari ingatan generasi muda, dan Kota Metro akan kehilangan salah satu potensi budaya unggulannya. Wayang butuh lebih dari sekadar panggung sesaat; ia butuh rumah dan sandaran yang teguh dari pemerintah sebagai pemangku kebijakan.
Kini, bola ada di tangan pemerintah daerah. Apakah wayang akan dibiarkan sekadar menjadi cerita masa lalu, atau akan dihidupkan sebagai kebanggaan masa kini dan investasi budaya untuk Indonesia Emas 2045?
