TANGGAMUS β Ribuan pengunjung memadati Kecamatan Pulo Panggung, Senin (5/1/2026), menyaksikan gelaran meriah Fastival Lomba Burung Berkicau yang digagas oleh Polres Tanggamus bersama Gerakan Anti Narkotika (Granat) Kabupaten Tanggamus.
Acara yang dibuka secara resmi oleh Kapolres Tanggamus AKBP Rahmad Sujatmiko dan Ketua Granat Tanggamus Agus Ciek, berhasil menarik minat ratusan peserta dari berbagai daerah di Lampung dan sekitarnya.
Festival ini bukan sekadar ajang perlombaan biasa, melainkan bagian dari strategi pendekatan kreatif penegak hukum dan pegiat anti narkoba untuk membangun sinergi dengan masyarakat. Dalam sambutannya, Kapolres menegaskan bahwa kegiatan positif seperti ini dapat menjadi alternatif hiburan sehat dan menjauhkan generasi muda dari bahaya narkoba.
“Lomba burung berkicau ini adalah wadah silaturahmi dan sarana menyalurkan hobi secara positif. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memperkuat kohesi sosial dan mendukung program pencegahan narkoba di tingkat akar rumput,” ujar AKBP Rahmad Sujatmiko.
Sementara itu, Agus Ciek menambahkan bahwa kolaborasi dengan Polres merupakan bentuk konkret perang melawan narkotika melalui pendekatan budaya dan komunitas. “Granat tidak hanya fokus pada penyuluhan, tetapi juga menginisiasi kegiatan yang membangkitkan semangat positif dan produktif di masyarakat,” jelasnya.
Lomba yang memperlombakan sekitar 20 kelas ini menampilkan berbagai jenis burung berkicau unggulan, antara lain Murai Batu, Kacer, Pleci, Kolibri Ninja, Kenari, Cucak Rowo, dan berbagai jenis lainnya. Suara merdu dan gacoran para peserta dinilai ketat oleh dewan juri yang kompeten di bidangnya.
Yang menjadi daya tarik utama festival ini adalah hadiah utama satu unit motor matic baru untuk pemenang kelas utama, disertai ratusan piala, trofi, dan uang pembinaan untuk setiap kelas. Hadiah tersebut berhasil memacu semangat peserta untuk menampilkan performa terbaik dari burung piaraannya.
Antusiasme masyarakat terlihat dari penuhnya lokasi lomba sejak pagi hari. Selain sebagai ajang kompetisi, festival ini juga dimanfaatkan sebagai ajang transaksi jual-beli burung, perlengkapan sangkar, pakan, dan aksesoris lainnya, sehingga turut menggerakkan roda perekonomian lokal.
Keberhasilan penyelenggaraan festival ini membuktikan bahwa kolaborasi antara penegak hukum dan organisasi masyarakat dapat menciptakan dampak positif yang luas, tidak hanya dalam penegakan hukum tetapi juga dalam penguatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Tanggamus.
Diharapkan kegiatan serupa dapat diagendakan secara rutin dan dikembangkan lebih kreatif lagi, sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya saing.(*)
