Oleh : Abid Bisara
Sigerpos.com, Setiap 10 November, kita mengenang para pahlawan yang mengorbankan jiwa dan raga dengan senjata di tangan, mengusir penjajah dari bumi pertiwi. Darah mereka adalah tinta emas dalam lembaran sejarah kemerdekaan. Namun, di era kekinian, di medan perang yang berbeda, berdirilah para pahlawan tanda jasa dengan senjata yang lain: pena, rekorder, kamera, dan ketajaman naluri. Mereka adalah para jurnalis, pahlawan tanpa tanda jasa dari negara, yang berjuang di garis depan untuk kebenaran dan keadilan.
Dalam narasi kepahlawanan modern, profesi pers adalah episentrumnya. Mereka adalah “pahlawan dekonstruksi” bukan membangun tembok pertahanan, melainkan merobohkan tembok kebohongan, keserakahan, dan korupsi. Bayangkan, mereka bekerja tanpa gaji dan tunjangan dari pemerintah. Motivasi mereka murni, idealismenya pada kebenaran dan dedikasinya pada publik. Mereka membiayai perangnya sendiri, dengan honor yang seringkali tak sebanding dengan risiko yang mereka pikul.
Perjuangan mereka nyata dan penuh bahaya. Seorang jurnalis investigasi yang membongkar kasus korupsi pengadaan barang, bukan hanya sedang mengetik berita. Ia sedang menyelamatkan anggaran negara yang bisa digunakan untuk membangun sekolah, memperbaiki rumah sakit, atau membantu masyarakat miskin. Setiap fakta yang mereka ungkap adalah peluru yang mengarah ke jantung para pelaku kejahatan kerah putih. Mereka adalah partner tak resmi dari Kepolisian, seringkali menjadi ujung tombak pengungkapan kasus dengan menyodorkan bukti awal yang runcing. Mereka membuka tabir-tabir yang dengan sengaja ditutupi oleh kekuasaan dan uang.
Merekalah yang menerjang banjir, mengunjungi lokasi konflik, dan mendatangi narasumber yang berbahaya, hanya untuk memastikan publik tidak buta. Dalam diam, mereka adalah pencegah kerugian negara yang lebih besar. Mereka adalah sistem peringatan dini bagi demokrasi kita.
Namun, ironi terbesar dari kepahlawanan mereka adalah bahwa mereka tidak hanya berhadapan dengan musuh di luar, tetapi juga dengan “musuh” yang mengaku dari dalam. Profesi mulia ini kerap tercemar oleh oknum yang mengatasnamakan “wartawan”.
Oknum-oknum inilah yang menjadi bayang-bayang gelap dari pahlawan sejati. Mereka adalah preman berkedok kartu pers. Modusnya pun seringkali sama, mengancam narasumber dengan pemberitaan negatif, melakukan intimidasi dengan kekerasan verbal, hingga yang paling hina, memeras. Tindakan segelintir oknum ini seperti noda tinta hitam yang mengotori seluruh kertas putih perjuangan jurnalisme. Citra para pahlawan pencari fakta ini tercoreng, digeneralisasi menjadi “wartawan bodong” yang hanya mencari keuntungan.
Inilah pertempuran ganda yang mereka hadapi, di satu sisi, melawan kekuatan koruptif dan kebohongan yang hendak mereka bongkar. Di sisi lain, melawan stigma buruk yang diciptakan oleh oknum dalam “seragam” yang sama. Publik pun menjadi bingung dan sinis, sulit membedakan mana pahlawan sejati dan mana penjahat berkedok jurnalis.
Maka, dalam semangat Hari Pahlawan, sudah saatnya kita memberikan pengakuan yang layak untuk para pahlawan kontemporer ini. Pengakuan itu tidak harus dalam bentuk tunjangan pemerintah, karena independensi adalah nyawa mereka. Pengakuan itu hadir dalam bentuk, Apresiasi Publik: Masyarakat harus cerdas membedakan antara jurnalis profesional dan oknum pemeras. Dukung media yang memberitakan dengan fakta dan data, bukan sekadar sensasi.
Perlunya Perlindungan Hukum: Negara harus hadir memberikan perlindungan konkret bagi jurnalis yang melakukan pekerjaannya, terutama ketika mereka terancam karena membongkar kasus besar. Sanksi Tegas: Insan pers sendiri, melalui organisasi seperti Dewan Pers, harus lebih tegas membersihkan kawanan dari oknum-oknum yang merusak martabat profesi. Sertifikasi dan etika harus dijunjung tinggi.
Pada akhirnya, pahlawan dengan senjata pena ini juga mengajarkan kita tentang makna “merdeka”. Jika dulu pahlawan kita berjuang untuk merdeka secara fisik dari penjajah, hari ini para jurnalis sejati berjuang untuk memerdekakan pikiran kita dari belenggu kebohongan dan manipulasi.
Mari, di Hari Pahlawan ini, kita serukan bukan hanya hormat untuk Jenderal Sudirman atau Bung Tomo, tetapi juga untuk si Anonim dari meja redaksi, untuk si Pemberani dari lokasi konflik, dan untuk si Gigih yang tak kenal lelah membongkar skandal. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, yang jasanya tercatat dalam setiap kebenaran yang berhasil diselamatkan untuk kita semua.
