Sigerpos.com, Porong, Sidoarjo β Sukacita peringatan HUT RI ke-80 dengan gemerlap lomba dan gerak jalan, justru menyisikan duka yang paling dalam bagi sebuah keluarga kecil di Desa Candi Pari. Hanania Fatin Majida, gadis cilik berusia 2 tahun 10 bulan, menghembuskan napas terakhirnya di RSUD Sidoarjo pada Selasa (4/6/2024), setelah perjuangan lima hari melawan sakitnya yang tak kunjung terdiagnosis.
Kisah pilu ini berawal dari demam tinggi yang diderita Hanania. Dibawa orang tuanya, Hasan Bisri (sopir) dan Siti Nur Aini (ibu rumah tangga), ke Klinik Siaga Medika Candi Pari, mereka hanya pulang dengan segulung obat. Dua hari kemudian, demamnya kembali membara. Kali ini, harapan mereka pupus saat klinik menolak Kartu Indonesia Sehat (KIS) Hanania dengan alasan “tidak aktif”. Dengan berat hati dan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka merogoh kocek untuk biaya perawatan.
“Kami pasrah, yang penting anak saya sembuh,” ujar Siti dengan suara parau, menahan isak tangis.
Lima hari perawatan tak kunjung memulihkan. Malah, luka melepuh muncul di tangan mungilnya bekas infus. Puncaknya di dini hari, Hanania kejang-kejang. Dengan panik, keluarga meminta rujukan ke rumah sakit. Namun, langkah mereka terhalang tagihan Rp 3,2 juta yang belum lunas.
“Kami memaksa, menjaminkan KK asli. Akhirnya mereka mau merujuk, tapiβ¦ saat itu kondisi Hanania sudah sangat kritis,” sambung Hasan, ayahanda Hanania, dengan pandangan kosong.
Di RSUD Sidoarjo, kenyataan pahit justru menghantam. Pihak rumah sakit menyatakan KIS Hanania AKTIF. Informasi itu bagai petir di siang bolong. Kenapa klinik menolaknya? Pertanyaan itu menggelayuti di benak mereka.
Tak sampai 12 jam di rumah sakit, Hanania pun berpulang. Tubh mungilnya sudah membiru, melepuh di sekujur tangan dan kaki, serta bintik-bintik merah di telapak kaki. Dokter hanya bisa menggeleng, kondisi pasien sudah terlalu parah.
Duka itu belum berakhir. Di hari mereka meratapi kepergian sang buah hati, pihak klinik justru mengirim pesan penagihan. Bahkan setelah nyawa melayang, tagihan itu masih dianggap lebih penting.
Media berusaha mengonfirmasi ke klinik. Seorang perempuan bernama Jihan yang menerima telepon hanya berdalih, “Saya akan konfirmasi ke dokter yang piket,” tanpa klarifikasi pasti. Upaya konfirmasi ke Kepala Desa Candi Pari, Nurhadi, juga tak berbalas.
Kegiatan gerak jalan peringatan HUT RI yang riuh di lapangan desa, kontras dengan kesunyian di kediaman keluarga Hanania. Jerit pilu orang tuanya menyayat hati: apakah nyawa seorang anak dari keluarga kurang mampu harus ternilai oleh selembar tagihan?
Kisah Hanania menyisakan pertanyaan besar tentang kemanusiaan dan sistem kesehatan kita. Sebuah potret pilu di usia kemerdekaan ke-80: saat akses kesehatan seharusnya jadi hak semua anak bangsa, bukan privilege yang harus dibayar dengan nyawa.(*)
