Sigerpos.com, Metro – Di balik polemik penutupan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Karangrejo Metro Utara, ada suara lirih yang nyaris tidak terdengar. Suara mereka yang selama bertahun-tahun menggantungkan hidup dari tumpukan sampah. Kini, mereka kehilangan mata pencaharian.
Hal itu seperti yang dialami Jumiyo (55), warga RW 09 Kelurahan Karangrejo, Metro Utara. Ia adalah salah satu warga yang bekerja sebagai pemulung yang terdampak langsung. Sejak 1993, ia dan istrinya menggantungkan hidup dari mencari sampah plastik di TPAS Karangrejo. Namun, sejak TPAS ditutup sepuluh hari lalu, aliran rezeki mereka terhenti total.
Jumiyo, yang asli Madura dan telah tinggal di Karangrejo sejak 33 tahun lalu, menuturkan sempat kesulitan mencari uang makan dan anaknya tidak bersekolah.
“Kalau aslinya saya dari Madura, saya tinggal dan mulung di Karangrejo sejak tahun 1993 sampai sekarang. Bagi kami, TPAS itu bukan tempat sampah, tapi tempat harta karun. Karena dari situ kami makan dan membiayai anak sekolah,” ujar Jumiyo, Rabu (26/8/2026).
Setiap hari, ia dan istrinya menyisir tumpukan sampah untuk mencari barang-barang bernilai ekonomis. Dari hasil memulung, mereka bisa bertahan hidup dan membiaya pendidikan anak-anaknya.
Kini, segalanya berubah. Sepuluh hari tanpa akses ke TPAS membuat Jumiyo kehilangan sumber penghasilan. Dampaknya langsung terasa.
“Anak saya sudah tiga hari enggak sekolah. Karena enggak ada uang lagi. Penghasilan kami dari memulung setiap hari, TPAS ditutup, kami mau cari makan dari mana,” ucapnya.
Setelah pengelolaan sampah dialihkan ke Pusat Daur Ulang (PDU) Rejomulyo, Jumiyo dan 11 warga Karangrejo lainnya terpaksa menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencari rezeki. Mereka menyewa motor untuk mencapai lokasi baru tersebut, beban tambahan yang semakin memberatkan di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
“Saya enggak punya kendaraan. Kami sewa motor, sama kayak warga Karangrejo lainnya agar bisa mencari sampah di sini. Jelas enggak sama kayak dulu,” keluhnya.
Di tengah perdebatan antara warga yang menuntut penutupan TPAS dan pemerintah yang berupaya mencari solusi, nasib para pemulung seperti Jumiyo kerap terlupakan. Mereka adalah bagian dari ekosistem pengelolaan sampah yang selama ini berkontribusi, tetapi kini menjadi korban keadaan.
Jumiyo berharap ada solusi yang tidak hanya memenuhi tuntutan warga, tetapi juga memperhatikan nasib para pemulung yang selama ini bergantung pada TPAS.
“Kami hanya ingin bisa bekerja lagi. Kami tidak minta banyak, hanya bisa memulung seperti dulu, agar anak-anak kami bisa sekolah dan kami bisa makan,” pintanya. (*)
