Para pekerja di PDU Rejomulyo melakukan pemilhan sampah. | Dok.
Sigerpos.com | Kota Metro – Kesibukan baru terlihat di Pusat Daur Ulang (PDU) Rejomulyo, Metro Selatan. Hanya berselang sehari setelah Aliansi Masyarakat Karangrejo membuka blokir gerbang Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS), PDU Rejomulyo langsung bergerak melakukan adaptasi sistem pemilahan sampah. Langkah taktis ini menjadi pembuktian awal bahwa Pemerintah Kota Metro serius memenuhi janji modernisasi tata kelola persampahan di Bumi Sai Wawai.
Plt. Kepala UPTD TPAS Karangrejo Kota Metro, Raden Muhammad Joni Irwan, memastikan bahwa proses pemilahan sampah organik dan anorganik di PDU Rejomulyo berjalan tanpa kendala berarti. Raden meyakinkan publik bahwa kekhawatiran warga sekitar mengenai potensi munculnya aroma busuk akibat aktivitas pemilahan tersebut hampir pasti tidak akan terjadi.
“Kami pastikan bau sampah yang dikhawatirkan itu tidak akan terjadi. Proses pemilahan sampah organik dan anorganik di PDU Rejomulyo berjalan dengan baik dan terukur,” ujar Raden saat memberikan keterangan, Selasa, 25 Agustus 2026.
Guna menjaga ritme kerja dan memastikan sampah tidak menumpuk lama, PDU Rejomulyo mengerahkan sedikitnya 20 orang tenaga kerja. Para pekerja ini dibagi ke dalam sistem giliran kerja atu shift untuk memilah setiap muatan truk yang datang. Proses adaptasi dan pelatihan kilat bagi 20 pekerja ini sejatinya telah digulirkan sejak Sabtu, 22 Agustus 2026, atau sehari setelah blokir pintu masuk TPAS Karangrejo dibuka Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso bersama warga.
Pengolahan sampah di PDU Rejomulyo dirancang dengan membagi limbah ke dalam tiga jalur akhir. Sampah organik yang masuk akan langsung dialokasikan ke barak pengomposan untuk diolah menjadi pupuk organik. Sementara itu, sampah anorganik bernilai ekonomis akan dipilah dan dicacah agar bisa masuk ke siklus industri daur ulang.
“Sisanya, yang benar-benar berupa residu kering, baru dibuang ke TPAS Karangrejo,” kata Raden. Dengan formula ini, pasokan sampah basah yang selama ini menjadi penyebab utama bau busuk di TPAS Karangrejo, yang sudah berdiri sejak 1988, bakal dikurangi total. Langkah yang dilakukan di hulu ini berjalan simultan dengan program pembenahan mekanis gunungan sampah yang telanjur mengkristal di TPAS Karangrejo.
Mengenai keluhan warga atas meningkatnya volume truk sampah yang lalu lalang menuju PDU Rejomulyo dalam tiga hari terakhir, Raden menyebut fenomena itu sebagai ekses atau dampak sisa dari mogoknya pelayanan kebersihan selama sepekan lalu.
Blokade gerbang TPAS Karangrejo beberapa waktu lalu sempat membuat sampah seantero Kota Metro menumpuk di sudut-sudut jalan, sehingga pembersihan intensif harus dilakukan pasca-kompromi tercapai. Namun, situasi darurat ini dipastikan segera berakhir.
“Mulai besok, lalu lalang armada truk sampah tidak akan sepadat beberapa hari ini karena kondisi kebersihan kota sudah berangsur normal. Ke depan, kapasitas kelola PDU Rejomulyo dipastikan mampu mengelola seluruh pasokan sampah yang diangkut oleh truk-truk sampah di Kota Metro,” pungkas Raden optimis. (*)
