Opini oleh Hendi Dwi Putra
Aksi Wakil Wali Kota yang nekat “mengajak” masyarakat dan anak muda untuk meramaikan kembali bangunan Shopping Center Kota Metro dengan tampilan foto bernarasikan “Siapa yang belum pernah ke sini?” adalah contoh nyata dari sebuah oportunisme politik.
Sangat disayangkan ketika seorang pejabat publik memilih memanfaatkan momentum demi memburu citra dan popularitas instan, padahal gedung tersebut jelas-jelas sedang dalam masa penilaian teknis untuk dibongkar.
Ini bukan sekadar urusan penataan pedagang atau ruang kreatif anak muda, tetapi persoalan keselamatan jiwa. Kita harus melihat fakta objektifnya:
- Struktur yang Menua: Gedung ini sudah berusia di atas 48 tahun dan secara fisik memerlukan audit kelayakan yang ketat.
- Ancaman Sesar Aktif: Wilayah kita berada dalam jangkauan potensi bencana tektonik. Kurang dari 5 km dari pusat gempa yang pada Maret lalu menjadi sumber gempa berkekuatan 2,6 M.
Gempa yang mengagetkan para pemerhati kegempaan nasional, termasuk mantan staf khusus Presiden SBY Bidang Bencana, Andi Arief, yang mengingatkan untuk waspada karena patahan aktif kurang dari 5 km dari pusat Kota Metro selama ini belum pernah terdata.
Membiarkan massa berkerumun di bangunan yang belum teruji keamanannya berdasarkan uji SNI 1726:2019 adalah tindakan yang sangat abai terhadap mitigasi bencana.
Mendukung UMKM dan menyediakan wadah bagi anak muda itu wajib, tetapi pemimpin yang bertanggung jawab seharusnya mencarikan solusi ruang publik yang aman dan legal. Mengajak warga masuk ke area yang berisiko sebelum hasil uji kelayakan keluar demi narasi “Membela Rakyat” hanyalah gimmick politik yang mengorbankan prinsip kehati-hatian (precautionary principle).
Sebagai masyarakat Metro, saya menyayangkan segala upaya meraih simpati untuk tujuan keberpihakan dalam konflik kepemimpinan Kota Metro yang mengabaikan keselamatan nyawa masyarakatnya sendiri.
Tabik.
