Metro β Polemik pelanggaran pengelolaan limbah oleh SPPG Yayasan Masyarakat Madani Berkarya di Kelurahan Ganjar Asri, Metro Barat, memasuki babak baru. Warga yang sejak dua bulan terakhir “disiksa” bau busuk dari limbah cair yang dibuang ke saluran irigasi justru mendapat angin surut. Pasalnya, Ketua Satuan Tugas (Satgas) Makan Bergizi Gratis (MBG) Kota Metro, Wahyuningsih, enggan menindaklanjuti keluhan tersebut.
Bahkan, instruksi tegas dari Ketua DPRD Kota Metro, Ria Hartini, yang mendesak Satgas untuk segera turun ke lokasi, tampaknya diabaikan.
Saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon pada Kamis malam (23/4/2026), Wahyuningsih mengakui bahwa ia telah berkomunikasi dengan Ria Hartini. Namun, ia secara blak-blakan menyatakan bahwa pihaknya belum memiliki rencana untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke SPPG bermasalah tersebut.
“Ya, tadi saya sudah komunikasi dengan Ketua DPRD Metro. Tapi memang kami belum ada rencana untuk melakukan sidak ke lokasi itu,” ujar Wahyuningsih.
Padahal, keluhan warga sudah sangat mendesak. Bau busuk dari limbah SPPG mencemari lingkungan, sementara sikap arogan kepala SPPG yang disebut “mengajak warga berkelahi” semakin memperkeruh suasana.
Pernyataan yang lebih kontroversial keluar dari mulut Wahyuningsih. Ia mengungkapkan bahwa jabatannya sebagai ketua Satgas MBG Kota Metro, hanya dianggap sebagai pekerjaan sampingan, bukan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) utamanya.
“Malam ini sehabis isya, saya masih ada Zoom. Persoalan SPPG, saya sebagai ketua MBG ini kan cuma pekerjaan sampingan saja, bukan tupoksi utama,” jelasnya.
Pernyataan ini sontak menimbulkan pertanyaan besar di publik. Bagaimana mungkin seorang ketua satgas yang bertanggung jawab mengawasi program strategis yang menyangkut kesehatan ribuan anak menganggap jabatannya hanya “sampingan”? Dan di mana komitmennya terhadap tugas ketika warga sudah menderita akibat ulah SPPG nakal?
Sebelumnya, Ria Hartini telah meminta Satgas MBG untuk bekerja serius. Ia bahkan mendorong agar SPPG yang melanggar diberikan sanksi tegas berupa rekomendasi penutupan, sebagai efek jera bagi penyelenggara lainnya.
Kini, di tengah instruksi yang terkesan diabaikan dan pernyataan kontroversial ketua satgas, warga Ganjar Asri kembali ke titik nol. Bau busuk limbah masih menyengat, sementara nyali pemerintah untuk bertindak masih dipertanyakan.
Kasus ini menjadi ujian nyata bagi efektivitas Satgas MBG Kota Metro. Jika ketua satgas saja menganggap pekerjaannya hanya “sampingan” dan enggan merespons instruksi pimpinan daerah, lalu siapa yang akan melindungi warga dari SPPG nakal?(*)
