Sigerpos.com, Metro β Proyek pembangunan drainase senilai Rp200 juta di Jalan Langsat, RW 02, Kelurahan Yosomulyo, Metro Pusat, menjadi bulan-bulanan warga. Alih-alih mengalirkan air dengan lancar, saluran yang selesai dibangun pada 14 Desember 2025 itu justru berubah jadi kolam genangan permanen.
Warga setempat, Yusuf (33), mengungkapkan kekecewaannya. Menurutnya, alih-alih mengatasi banjir, proyek yang sedianya sedalam 60 cm ini kini rutin tergenang air hingga 17 cm. Ironisnya, genangan itu tak kunjung surut meski tak turun hujan.
“Bagaimana tidak, alih-alih bikin irigasi lancar, ini malah menggenang terus. Sudah empat minggu lalu kami laporkan ke Dinas PUTR, Pak Lurah, RW, dan tim PSN juga sudah ke sini. Tapi cuma dibersihkan doang, padahal masalahnya bukan kotor, tapi beda ketinggian. Jadi sampai sekarang masih genang,” keluh Yusuf, Kamis (26/2/2026).
Proyek dengan nomor kontrak 15-PLPSDK/SPK/PUCK/D-3.3/2025 ini menjadi sorotan tajam karena kualitas pengerjaannya dipertanyakan. Drainase yang seharusnya menjadi solusi justru menimbulkan persoalan baru, genangan air yang berpotensi menjadi sarang nyamuk Aedes aegypti, penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD).
“Genang begini takutnya malah jadi sarang nyamuk, apalagi nyamuk DBD. Nanti daerah sekitar malah jadi darurat DBD. Ini proyek Rp200 juta, masak bikin begini?” tambah Yusuf dengan nada kesal.
Di tengah musim penghujan seperti sekarang, genangan air yang tidak mengalir adalah ancaman serius. Warga khawatir lingkungan mereka akan menjadi episentrum penyebaran DBD jika drainase ini tidak segera dibenahi.
“Harapan kami, pihak Dinas terkait segera turun tangan. Perbaiki drainase ini biar ngalir lancar, jangan sampai udah darurat DBD baru pada bergerak. Kami gak mau anak-anak kami jadi korban gara-gara proyek nanggung begini,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Kota Metro belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan warga. Padahal, laporan sudah disampaikan sejak empat minggu lalu dan telah ditindaklanjuti dengan peninjauan langsung oleh Lurah, RW, dan tim Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Namun, hasilnya nihil, hanya pembersihan tanpa perbaikan struktural.
Proyek drainase yang mangkrak secara fungsi ini menjadi ironi di tengah upaya pemerintah menciptakan lingkungan sehat. Alih-alih mengalirkan air, anggaran ratusan juta justru berakhir sebagai bak penampung air hujan yang menggenang, lengkap dengan potensi wabah di dalamnya.
Warga hanya bisa berharap, sebelum genangan ini benar-benar menelan korban, Dinas PUTR segera bergerak. Bukan sekadar meninjau, tapi memperbaiki dengan serius. Karena keselamatan warga tidak bisa ditawar-tawar, apalagi hanya gara-gara proyek setengah hati.(*)[Abid]
