Sigerpos.com, Metro β Polemik video viral yang dipublikasikan akun TikTok @cepu magang semakin memanas. Kali ini, seorang tokoh LSM dan pegiat media sosial, Uncu Wenda (Nurwenda Ratu), Ketua LSM NGO JPK Koorda Lampung Tengah, justru buka suara secara blak-blakan. Dalam siaran langsung akun TikTok pribadinya pukul 21.07 wib, ia mengakui bahwa dirinya juga menerima paket proyek infrastruktur di Kota Metro.
Video yang sempat menggemparkan publik tersebut secara terbuka memaparkan data penerima proyek, yang tidak hanya melibatkan sejumlah anggota DPRD Kota Metro dengan nilai hingga ratusan juta rupiah, tetapi juga diduga sejumlah oknum wartawan dan aktivis LSM.
“Dikasih Ya Ambil, Ya Kan?” Kata Uncu Wenda Minggu 4/5/2026.
Tak menunggu lama, Uncu Wenda langsung menjadi pusat perhatian. Dengan gaya blak-blakannya, ia tidak menampik bahwa namanya masuk dalam aliran proyek.
“Dikasih ya ambil, ya kan? Ada proyek ya saya ambil.”
Pernyataan spontan ini sontak menjadi perdebatan. Di satu sisi, publik mempertanyakan integritas seorang pegiat advokasi yang menerima proyek dari pemerintah. Di sisi lain, pengakuan ini membuka ruang pertanyaan, jika seorang aktivis LSM yang biasa mengawal kebijakan publik menerima proyek, di mana letak independensinya?
“Saya Dikejar Dosa”
Meski mengakui menerima proyek, Uncu Wenda bersikukuh bahwa dirinya tidak akan tutup mata terhadap aduan masyarakat. Ia justru mengaku terjepit antara pekerjaan proyek dan amanah moral menyampaikan aspirasi warga.
“Masak mentang-mentang Uncu dikasih kerjaan proyek, terus Uncu tutup mata, tutup telinga? Enggak. Saya dikejar dosa, karena saya harus menjalankan amanah aduan masyarakat yang masuk ke saya.”
Pernyataan ini memberikan perspektif baru, bahwa seorang penerima proyek sekaligus bisa menjadi penyalur aspirasi. Namun, bagi sebagian kalangan, hal ini justru dinilai sebagai bentuk “pengakuan berdosa di tengah kenikmatan proyek” yang tidak lazim.
“Buka-bukaan Aja, Siapa yang Dapat Paling Gede?”
Uncu juga menyinggung anggota DPRD Kota Metro untuk lebih terbuka dan bersinergi dengan eksekutif (Pemerintah Kota). Ia menantang semua pihak untuk jujur.
“Sekarang buka-bukaan aja, siapa yang dapat paling gede? Mana? Gak mungkin kerjaan cuma PL (penunjukan langsung) aja. Yang gede mana?”
Ia juga mengingatkan bahwa eksekutif dan legislatif seharusnya saling bersinergi, meski ia menyerahkan sepenuhnya kepada pribadi masing-masing.
“Aturannya eksekutif dan legislatif saling bersinergi. Tapi itu terserah pribadi ya.”
Pengakuan Uncu Wenda ini menambah panjang daftar nama-nama yang disebut dalam video viral. Publik kini menanti langkah tegas aparat penegak hukum. Apakah akan dilakukan audit terhadap proyek-proyek yang disebut? Apakah ada unsur pidana dalam praktik pembagian paket ini? Atau sekadar “bagi-bagi rezeki” yang biasa terjadi di lingkungan proyek?
Yang jelas, pengakuan “dikejar dosa” dari Uncu Wenda menjadi ironi tersendiri. Seorang pegiat advokasi, yang seharusnya menjadi kontrol sosial, justru berada di dalam pusaran proyek itu sendiri. Dan pertanyaan terbesar, apakah pengakuan ini cukup sebagai bentuk pertanggungjawaban moral, atau justru menjadi pintu masuk untuk pengusutan lebih serius? (*)
