Ilustrasi. | ist.
‘Sigerpos.com | Tanggamus – Pengusaha percetakan penyedia lembar soal ujian sekolah di Kabupaten Tanggamus mengaku resah. Hal itu lantaran adanya dugaan permintaan ‘setoran’ oleh oknum yang mengaku sebagai tenaga ahli bupati, disertai indikasi pengalihan langganan ke perusahaan lain.
Seorang pengusaha yang meminta identitasnya dirahasiakan, mengatakan permintaan setoran itu berlangsung berulang dalam setahun terakhir. Nilainya disebut terus meningkat.
βSudah tiga kali diminta, mulai dari Rp5 juta sampai Rp10 juta. Terakhir diminta Rp50 juta. Kalau tidak sanggup, pekerjaan bisa dialihkan ke percetakan lain,β ujar sumber tersebut, Rabu, 29/4/2026.
Ia mengklaim selama ini perusahaannya menangani pencetakan soal ujian untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Tanggamus tanpa kendala. Distribusinya juga berjalan tepat waktu dan tidak ada keluhan dari pihak sekolah.
Namun, menurut dia, tekanan dari pihak luar membuat posisi pelaku usaha menjadi tidak pasti. Ia juga menyebut adanya dugaan pengarahan kepada kelompok kerja kepala sekolah, termasuk K3S dan MKKS, untuk menggunakan jasa percetakan tertentu.
βKami berharap bupati menertibkan oknum yang mengaku tenaga ahli itu, agar pelaku usaha bisa bekerja dengan nyaman,β katanya.
Sigerpos mencoba mengonfirmasi pihak perusahaan yang disebut dalam dugaan tersebut. Perwakilan perusahaan, Dedi, membantah adanya praktik intimidasi maupun kesepakatan dengan oknum yang dimaksud.
Ia mengaku mengenal seseorang bernama Muhammad Kholid dan pernah berbincang terkait pekerjaan percetakan, namun menegaskan tidak ada kesepakatan bisnis. βTidak ada intimidasi atau kesepakatan apa pun,β ujarnya.
Sementara itu, Ketua MKKS SMP Kabupaten Tanggamus, Heni, menyatakan tidak mengenal nama yang disebut. Ia juga mengaku tidak pernah menghadiri rapat yang melibatkan pihak tersebut. Namun, ketika ditanya soal kemungkinan adanya pembahasan pengalihan langganan percetakan, ia enggan memberikan keterangan lebih lanjut.
βSaya boleh kan untuk tidak menjawab pertanyaan itu,β kata Heni.
Sementara, Muhammad Kholid membantah pernyataan sumber Sigerpos. “Tidak benar. Informasi itu dari siapa?” katanya, balik bertanya. (*)
