Oleh :Abid Bisara
Sigerpos| Di bawah terik matahari yang menyengat, seorang Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terlihat duduk serta berbaring lesu di trotoar depan kantor walikota Metro di Selasa pagi yang cerah.
Pakaiannya lusuh, wajahnya kusut, dan matanya kosong menatap ke arah lalu lalang orang-orang yang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Sesekali, ia bergumam sendiri, seolah sedang berbicara dengan bayangan yang hanya ia lihat.
Beberapa pegawai keluar-masuk gedung megah itu, sebagian meliriknya dengan pandangan sinis, sebagian lagi berusaha menghindar. Tapi ODGJ itu hanya tertawa kecil sebelum kembali diam, seakan tak mengerti mengapa ia harus pergi.
Ia mungkin punya cerita sebuah kehidupan sebelum kegilaan menyapunya. Mungkin dulu ia seorang ayah, seorang pekerja, atau bahkan tetangga biasa yang tiba-tiba hilang akal setelah diterpa beban hidup yang terlalu berat.
Tapi sekarang, ia hanya menjadi bagian dari pemandangan kota yang sering diabaikan: simbol dari sistem yang gagal menangani mereka yang tersesat di lorong-lorong jiwa yang gelap.
Dan kantor Walikota Metro tetap berdiri megah, seolah tak peduli bahwa di depan pintunya, ada manusia yang merana, menunggu uluran tangan yang mungkin tak akan pernah datang.
Menyandang kota pendidikan, tidak menjamin masyarakat nya memiliki pemikiran yang sehat, bukan hanya hilangnya sosial, nurani mereka tertutup, terbalut seragam coklat dengan kilap pangkat dibahu yang menyilaukan mata.
